Beranda | Artikel
Dunia Melalaikan dari Akhirat
10 jam lalu

Dunia Melalaikan dari Akhirat adalah kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc. pada Rabu, 24 Rabiul Awal 1448 H / 6 September 2026 M.

Kajian Tentang Dunia Melalaikan dari Akhirat

Akan tiba masa yang telah Allah tentukan. Kita meninggalkan dunia dan berpindah ke alam transit yang disebut alam barzakh. Alam barzakh menjadi pemisah antara dunia yang belum selesai dan akhirat yang belum tiba.

Barzakh berarti pemisah. Kiamat belum terjadi dan dunia belum berakhir sehingga akhirat belum tiba. Orang-orang yang telah berpisah dari dunia ditempatkan terlebih dahulu di alam barzakh. Dalam pembahasan para ulama, pembahasan tentang akhirat selalu dimulai dari alam barzakh. Alam barzakh dihitung sebagai bagian dari alam akhirat, meskipun bukan akhirat yang sebenarnya, melainkan masa transisi antara dunia dan akhirat.

Akhirat dimulai dari yaumul ba’ts, yaitu hari kebangkitan. Namun alam barzakh memiliki karakteristik alam akhirat, bukan karakteristik alam dunia. Alam barzakh sama-sama ghaib seperti alam akhirat. Di sana manusia bertemu dengan malaikat.

Allah membawa roh seorang mukmin ke langit dunia, kemudian ke langit pertama hingga langit ketujuh. Di sana ia bertemu dengan berbagai malaikat. Setelah itu, ia bertemu dengan malaikat yang bertanya di dalam kubur.

Orang mukmin yang berhasil menjawab pertanyaan tersebut mendapatkan tikar dan alas tidur dari surga. Pintu menuju surga dibukakan untuknya sehingga hawa dan aroma surga masuk ke dalam kuburnya. Sebaliknya, orang kafir, munafik, dan fajir yang tidak sanggup menjawab pertanyaan tersebut dibawakan tikar dari neraka. Pintu neraka dibukakan untuknya sehingga panas dan racun neraka masuk ke dalam kuburnya.

Persiapan Menuju Akhirat

Setiap hari kita semakin dekat dengan akhirat. Hal ini semestinya menjadi peringatan agar semakin dekat kepada akhirat, semakin banyak pula persiapan yang dilakukan. Jangan sampai semakin dekat ke akhirat, kita justru semakin lalai darinya. Kelalaian terhadap akhirat bermula dari kelalaian terhadap kematian.

Jangan menjadi anak-anak dunia, tetapi jadilah anak-anak akhirat. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu menyampaikan pesan tersebut dalam salah satu khotbahnya yang masyhur di Kufah.

Beliau berkata bahwa akhirat telah datang mendekat, sedangkan dunia telah pergi menjauh. Masing-masing memiliki anak. Oleh karena itu, jadilah anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia.

Benar bahwa kita hidup di dunia, tetapi Allah tidak menghidupkan kita untuk dunia. Kita hidup di dunia, tetapi bukan untuk dunia. Hal ini perlu ditanamkan dalam akidah dengan kuat.

Dunia Hanya Persinggahan

Dunia bukan darul qarar dan bukan tempat tinggal manusia yang sebenarnya. Dunia hanya negeri persinggahan. Ketika menurunkan Nabi Adam ke bumi, Allah berfirman:

وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ

“Bagi kalian di bumi terdapat tempat menetap dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 36)

Dunia menjadi tempat tinggal dan perhiasan bagi manusia sampai batas waktu yang telah ditentukan. Kita hidup dan tinggal di dunia, tetapi bukan untuk dunia. Dunia hanya tempat menetap dan kesenangan sementara.

Ketika Allah menciptakan manusia, Dia menempatkannya di dunia sampai batas waktu yang telah ditentukan. Batas waktu menuju akhirat bagi seluruh manusia semakin dekat. Di antara tanda kedekatan itu ialah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ

“Jarak antara aku dan diutusnya hari kiamat bagaikan dua jari ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)

إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا ‎﴿٦﴾‏ وَنَرَاهُ قَرِيبًا ‎﴿٧﴾

“Mereka memandang hari akhirat itu masih jauh, sedangkan Kami memandangnya sudah dekat.” (QS. Al-Ma’arij [70]: 6–7)

Mereka akan menggeleng-gelengkan kepala ketika disampaikan ayat-ayat Allah, lalu bertanya tentang kapan terjadinya hari kiamat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kiamat Semakin Dekat

Kiamat sudah dekat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengibaratkan jarak antara beliau dan hari kiamat seperti jarak antara dua jari. Peristiwa itu telah berjarak lebih dari 1.400 tahun sejak masa beliau.

Ciri-ciri kiamat terbagi menjadi dua: ciri-ciri kecil dan ciri-ciri besar. Hampir seluruh ciri-ciri kecil telah terwujud pada zaman ini. Hanya tersisa sedikit lagi. Jika seluruh ciri-ciri kecil telah terwujud, tidak ada yang tersisa selain ciri-ciri besar.

Ciri-ciri besar tersebut antara lain terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa Almasih, keluarnya Dajjal, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, serta munculnya Imam Mahdi. Semua itu menunjukkan bahwa hari kiamat sudah dekat.

Cinta Dunia dan Kecintaan kepada Akhirat

Jangan sampai dunia melalaikan dari akhirat. Cinta dunia telah berada dalam hati manusia, sedangkan cinta akhirat perlu dihadirkan dan ditumbuhkan.

Kecintaan kepada dunia merupakan fitrah manusia. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Surah Ali Imran bahwa manusia difitrahkan mencintai berbagai kenikmatan dunia.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ ‎﴿١٤﴾

“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada berbagai keinginan, berupa perempuan, anak-anak, harta yang banyak dari emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran [3]: 14)

Allah telah menanamkan dalam diri manusia kecenderungan mencintai lawan jenis, anak dan keturunan, serta harta yang banyak dan melimpah. Harta itu berupa emas, perak, kendaraan mewah, hewan ternak, dan perkebunan atau pertanian.

Allah tidak mungkin memberikan syahwat kepada manusia lalu mengharamkan seluruh pemenuhannya. Karena itu, Allah memberikan syariat agar manusia dapat memenuhi syahwat melalui cara yang halal.

Islam tidak bertentangan dengan harta yang melimpah, emas dan perak, kendaraan mewah, perkebunan, atau pertanian selama diperoleh dan digunakan di jalan yang halal.

Harta yang melimpah boleh dimiliki, tetapi harus disiapkan jawaban untuk dua pertanyaan akhirat: dari mana harta itu diperoleh dan untuk apa harta itu dibelanjakan. Jika kedua pertanyaan tersebut dijawab dengan benar, kekayaan tidak menjadi masalah dalam Islam.

Islam tidak memuji kekayaan semata-mata dan tidak bertentangan dengan kefakiran. Kekayaan tidak dihina, sebagaimana kefakiran juga tidak dihina. Harta dunia dibagikan oleh Allah, bukan oleh manusia.

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ…

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 26)

Tidak ada pujian mutlak terhadap kekayaan dan tidak ada celaan mutlak terhadap kefakiran. Yang dinilai adalah sikap seseorang ketika menghadapi kekayaan atau kefakiran.

Hati manusia telah diberi fitrah mencintai dunia dan kenikmatannya. Namun, Allah memerintahkan agar manusia mencintai akhirat melebihi kecintaan kepada dunia.

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا..

“Carilah dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash[28]: 77)

Akhirat harus dikejar dan diraih, sedangkan bagian dunia tidak boleh dilupakan.

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ

“Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia.” (QS. Ad-Duha [93]: 4)

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la [87]: 17)

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum [30]: 7)

Cinta Akhirat dalam Amal Istimewa

Inilah letak kesulitan manusia. Namun sulit bukan sesuatu yang mustahil. Allah tidak pernah memerintahkan hal yang mustahil. Dalam agama Allah terdapat kesulitan, rintangan, dan perjuangan berat, tetapi tidak ada sesuatu yang mustahil.

Allah memerintahkan agar kecintaan kepada akhirat lebih besar daripada kecintaan kepada dunia. Namun, cinta kepada akhirat bukan sifat yang permanen dalam diri manusia. Sifat itu harus diundang, didatangkan, dan dirawat agar lebih besar daripada cinta kepada dunia.

Sifat yang permanen harus dikalahkan oleh sifat yang didatangkan dari luar dan tidak bersifat permanen. Karena itu, banyak manusia mengalami kesulitan luar biasa untuk menjadi pencinta akhirat yang kecintaannya kepada akhirat lebih besar daripada kecintaannya kepada dunia.

Al-Qur’an memuji manusia yang kecintaannya kepada akhirat jauh lebih besar daripada kecintaannya kepada dunia. Di antara mereka ialah orang-orang yang tetap mengingat Allah, mengingat akhirat, dan takut kepada akhirat ketika sedang bertransaksi, berbisnis, atau berjual beli.

Keadaan itu hanya mungkin dicapai melalui perjuangan berat, perjalanan panjang, dan latihan yang terus-menerus, sehingga dunia ditempatkan secukupnya dan akhirat menjadi target kehidupan.

Allah tidak memuji kecuali orang-orang istimewa. Dalam Surah Al-Insan, Allah memuji orang-orang yang memberikan makanan kepada orang lain karena kecintaan mereka kepada Allah.

Memberikan makanan kepada orang lain adalah hal yang dapat dilakukan banyak orang. Namun, memberikan makanan karena kecintaan kepada Allah, terutama ketika diri sendiri sedang membutuhkannya, merupakan perkara yang sulit dan itulah yang dipuji Allah.

Seseorang yang sedang lapar, tetapi memberikan makanan kepada saudaranya yang meminta, menunjukkan kecintaan kepada akhirat. Ia rela menahan lapar agar saudaranya kenyang dan berharap Allah memberikan balasan kepadanya.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Dengarkan dan Download Kajian Dunia Melalaikan dari Akhirat

Jangan lupa untuk turut menyebarkan kebaikan dengan membagikan link kajian “Dunia Melalaikan dari Akhirat” ini ke media sosial Antum. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Antum semua.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56525-dunia-melalaikan-dari-akhirat/